banten77
LIVENama motif pada batik Banten dapat menjadi petunjuk untuk membaca sejarah di balik pola. Ada nama yang merujuk pada tempat dan ruang, ada yang terkait dengan gelar atau tokoh, dan ada pula yang menyampaikan makna simbolis. Jadi, nama bukan hanya label: ia membantu menunjukkan lapisan cerita yang mungkin luput jika kain dilihat dari coraknya saja. [1]
Dari temuan artefak menjadi motif batik
Sejarah batik Banten berkaitan dengan Kesultanan Banten. Masyarakat Banten disebut telah mengenal batik sejak abad ke-17, dengan selimut batik bernama simbut sebagai salah satu bukti arkeologis. Setelah masa kejayaan Kerajaan Banten berakhir, praktik membatik menurun dan tradisinya sempat hilang dari masyarakat setempat. [1]
Upaya revitalisasi dimulai pada 2002 melalui pengkajian motif dan artefak di kawasan Banten Lama. Kajian itu merujuk pada ekskavasi tahun 1976, yang menemukan puluhan ribu pecahan gerabah dengan berbagai ragam hias. Sekitar 75 ragam hias teridentifikasi; dari jumlah itu, 50 kemudian diadaptasi menjadi desain batik khas Banten. [1]
Rangkaian ini penting untuk memahami bahwa sebagian pola batik Banten merupakan hasil rekonstruksi ragam hias pada gerabah dan keramik peninggalan Kerajaan Banten, terutama dari kawasan Banten Lama. [1] Karena itu, nama motif sebaiknya dibaca sebagai petunjuk tentang kaitan sejarah atau maknanya, bukan selalu sebagai keterangan langsung tentang bentuk yang tampak pada kain.
Nama tempat dan ruang dalam kehidupan Kesultanan
Sejumlah nama motif mengarah pada lokasi atau fungsi ruang. Surosowan mengambil nama ibu kota Kesultanan Banten, sementara Pasepen merujuk pada tempat raja bermeditasi. Pancaniti berasal dari nama bangsal tempat raja menyaksikan prajurit berlatih, dan Pamaranggen berkaitan dengan tempat tinggal pembuat keris. [1]
Rujukan semacam ini membuat nama motif terasa seperti penunjuk arah: ia menghubungkan pola dengan tempat dan kegiatan dalam kehidupan masa Kesultanan. Itu adalah cara membaca yang berguna, meski nama saja belum menceritakan seluruh kisah sebuah motif.
Gelar, tokoh, dan makna simbolis
Kelompok nama lain berkaitan dengan gelar atau tokoh. Sabakingking berhubungan dengan gelar Sultan Maulana Hasanudin, Kawangsan dengan Pangeran Wangsa, Kapurban dengan gelar Pangeran Purbal, dan Mandalikan dengan Pangeran Mandalikan. [1] Nama-nama ini menambatkan pola pada tokoh dan gelar yang tercatat dalam sejarah Kesultanan Banten.
Beberapa motif lebih langsung mengarah pada makna tertentu. Srimanganti melambangkan pergantian zaman atau peralihan; Kesatriaan menggambarkan kepahlawanan; Panembahan merujuk pada tokoh atau pemimpin spiritual; sedangkan Singayaksa melambangkan keberanian dan perlindungan. [1] Perbedaan ini menunjukkan bahwa nama motif dapat bekerja dengan cara yang berlainan: sebagai rujukan tempat, pengingat tokoh, atau penanda gagasan.
Membaca nama bersama rupa pola
Datulaya memperlihatkan mengapa nama dan rupa perlu dibaca berdampingan. Motif ini memiliki bentuk dasar belah ketupat menyerupai bunga, dihiasi lingkaran dan bingkai sulur daun. Warna yang disebutkan untuknya ialah dasar biru, sulur daun abu-abu, dan kain dasar kuning. [1] Deskripsi bentuk memberi gambaran tentang pola yang terlihat, sedangkan nama-nama motif lain dapat membuka kaitan simbolis atau sejarahnya.
Batik Banten kerap dijelaskan melalui konsep tell story, yakni motif yang merepresentasikan kisah atau makna tertentu. [1] Nama motif menjadi salah satu pintu masuk untuk menelusurinya: dari ruang seperti Surosowan dan Pancaniti, tokoh seperti Sabakingking, hingga gagasan seperti peralihan dan perlindungan. Dengan begitu, pola pada kain dapat dibaca bukan hanya sebagai susunan bentuk, tetapi juga sebagai jejak hubungan antara seni, tempat, dan sejarah lokal.
Sumber
- [1] Wikipedia bahasa Indonesia — Batik Banten. https://id.wikipedia.org/w/index.php?oldid=29334669&title=Batik_Banten (diakses 2026-10-02).